Visit Asy syifa 2012

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. ”(Ali Imran / 3 : 110)

Labelisasi Halal Obat dan Kosmetik

"Labelisasi Halal Obat dan Kosmetik Untuk Menjamin Mutu Produk Farmasi Indonesia yang Aman dan Berkualitas"

UKKI Asy Syifa Fakultas Farmasi Universitas Jember

"Remember Allah Always"

This is my Family

periode 2010/2011

This is my Family

periode 2010/2011

This is my Big Family

SKIFI Sentra Kerohanian Islam Farmasi Indonesia 2011

This is SUSPENSI

Suplement Pengetahuan Islam Farmasi

Kepengurusan 2011/2012

'' Yaa Robbi, kuatkanlah kami, rapatkan barisan kami, istiqomahkan kami... Semoga kami senantiasa terhimpun dalam 1 ikatan ukhuwah yang penuh dengan kehangatan dan kecintaan dari-Mu''

Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Kebesaran Allah : Ayat Al-Quran Tidak Dimakan rayap

Kebesaran Allah : Ayat Al-Quran Tidak Dimakan rayap 

Di dalam rumah seorang muslim bernama En. Md. Farooq, penduduk Tappachabutra, Hyderabad, anai-anai telah memakan sebuah AL-QURAN yg berusia 100 tahun. Keseluruhan kulit naskah Al Qur’an dan kotak yang melindungi AL Quran tersebut telah rusak atau hampir musnah kerana dimakan oleh anai-anai, termasuklah termasuklah terjemahan Al-Quran tersebut ke dalam bahasa urdu. Apa yang menakjubkan ialah anai-anai tersebut langsung tidak menyentuh huruf-huruf asal Al-Quran yang bertulis dalam bahasa Arab. Subhanallah





sumber

Jumat, 29 Juli 2011

Jujur Membawa Berkah


“Jujur bakale mujur” alias jujur akan beruntung. Demikian kata pepatah. Namun, kadang pepatah diplesetkan menjadi “jujur bakale ajur” yang artinya jujur akan hancur. Tapi benarkah demikian? Untuk membuktikannya, mari kita simak kisah salah seorang sahabat, yaitu Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah hadits berikut ini.
Dari Abdullah bin Ka`ab bin Malik ra. ( beliau adalah seorang panglima perang), dari anaknya, ia berkata : “Saya mendengar Ka`ab bin Malik bercerita tentang tertinggalnya (tidak bersama) Rasulullah SAW Dalam perang Tabuk, Ka`ab bin Malik berkata : “ Saya selalu bersama Rasulullah SAW dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk. Memang saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar, tetapi tak seorang pun dicela, karena tidak ikut perang tersebut. Sebab waktu itu Rasulullah SAW bersama kaum muslimin keluar bertujuan menghadang rombongan Quraisy, lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan musuh.
Sungguh aku mengikuti pertemuan bersama Rasulullah SAW pada malam hari di dekat Jumrah Aqabah, ketika kami berjanji memeluk Agama Islam. Saya tidak merasa lebih senang seandainya saya bisa mengikuti perang Badar, tetapi tidak mengikuti ba`iat di Jumrah Aqabah, meskipun perang Badar lebih banyak disebut-sebut keutamaanya di kalangan manusia daripada Ba`iat Jumrah Aqabah. Adapun cerita tentang diriku tidak ikut perang Tabuk, waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat ataupun lebih mudah (mencari perlengkapan perang), daripada ketika aku tertinggal Rasulullah SAW daripada ketika aku tertinggal dari perang Tabuk. Demi Allah sebelum perang Tabuk saya tidak dapat mengumpulkan dua kendaraan sekaligus, tetapi waktu perang Tabuk kalau mau saya bisa melakukannya.
Dikarenakan Rasulullah SAW berangkat ke Tabuk ketika hari itu sangat panas, menghadapi perjalanan jauh dan sulit, serta menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka Rasulullah merasa perlu membekali kaum muslimin akan kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi, agar kaum muslimin membuat persiapan yang cukup. Rasulullah juga menjelaskan tentang tujuan mereka.
Waktu itu, kaum muslimin yang ikut perang Tabuk bersama Rasulullah SAW cukup banyak (sekitar 30.000 orang), tetapi nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku. Sedikit sekali di antara mereka yang absen (bersembunyi dan tidak ikut perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa Rasulullah SAW tidak mengetahuinya, selama wahyu Allah Ta`ala tidak turun.
Rasulullah berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan dan tetumbuhan kelihatan bagus. Karena itu, hatiku lebih condong ke sana (kepada buah-buahan dan tetumbuhan). Tatkala Rasulullah dan kaum muslimin hendak berangkatmempersiapkan segala sesuatunya, akupun bergegas keluar, guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun saya kembali tanpa menghasilkan apa-apa, padahal dalam hati aku berkata: “Saya mampu mempersiapkannya jika bersungguh-sungguh.”
Demikian itu berlangsung terus, dan saya selalu menundanya untuk mempersiapkan perlengkapan perang, sampai kesibukan kaum muslimin memuncak. Pada akhirnya, di pagi hari Rasulullah SAW beserta kaum muslimin berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan. Lalu saya keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi saya kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum muslimin bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian saya putuskan untuk menyusul kaum muslimin. Dengan perasaan menyesal ia berkata: “Andai saja saya berbuat demikian, namun takdir menentukan lain,”
Akhirnya, apabila saya keluar dan bergaul dengan masyarakat sesudah berangkatnya Rasulullah SAW hatiku resah dan saya menganggap diri ini tidak lebih sebagai seorang munafiq, atau lelaki yang diberi keringanan oleh Allah karena lemah (pada saat itu, di Madinah yang tinggal hanyalah orang-orang yang disebut munafiq dan orang-orang yang udzur karena amat lemah, seperti orang yang tidak dapat berjalan, buta, sakit, dan sebagainya).
(Menurut keterangan teman-teman) Rasulullah SAW tidak pernah menyebut-nyebut saya, hingga sampai ke Tabuk. Sesampainya di Tabuk, barulah beliau bertanya : “Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Ka`ab bin Malik?” Salah seorang dari Bani Salimah menjawab : “Ya Rasulullah, dia terhalang oleh selendangnya dan sedang memandang kedua pinggangnya (sedang bersenang-senang memakai pakaiannya). “Tetapi Mu`adz bin Jabal menghardiknya : “Betapa buruk perkataanmu, Demi Allah, yang kami ketahui pada Ka`ab hanyalah kebaikan.” Rasulullah SAW pun diam. Pada saat itulah melihat seorang lelaki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan. Rasulullah bersabda: “Mudah-mudahan itu adalah Abu Khaitsamah.” Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshariy. Dialah orang yang bersedekah segantang kurma, ketika diolik-olok oleh orang munafiq.
Ka`ab meneruskan ceritanya: ”Tatkala saya mendengar, bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk, maka kesusahan pun mulai menyelimuti saya. Saya mulai mereka-reka, alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari Rasulullah SAW Saya juga meminta bantuan keluargaku mencari alasan dan jalan keluar yang sangat baik. Tetapi, ketika mendengar bahwa Rasulullah SAW sudah dekat, hilanglah segala macam kebohongan yang saya siapkan, hingga saya yakin tidak ada alasan yang dapat menyelamatkan dari Rasulullah SAW selamanya. Karena itu saya mengatakan yang sebenarnya.
Keesokan harinya, Rasulullah SAW tiba. Biasanya, kalau beliau datang dari bepergian, yang beliau tuju pertama kali adalah masjid. Beliau mengerjakan shalat dua raka`at lalu duduk menunggu kaum muslimin melaporkan sesuatu dan sebagainya. Maka berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut ke Tabuk, menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan kepada Rasulullah SAW disertai dengan sumpah. Mereka yang tidak ikut perang Tabuk ada delapan puluh orang lebih. Rasulullah SAW Menerima mereka, beliau memperkenankan memperbaharui bai`at dan memohonkan ampun bagi mereka, sedangkan batin mereka, beliau serahkan kepada Allah Ta`ala.
Tibalah giliran saya menghadap. Ketika saya mengucapkan salam beliau tersenyum sinis, kemudian bersabda : “Kemarilah” Ka`ab berjalan mendekat dan duduk di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?” Saya menjawab: “Ya, Rasulullah! Demi Allah, andaikan saya duduk di hadapan orang selainmu, saya yakin dapat bebas dari kemarahannya dengan menggunakan berbagai alasan yang bisa diterima. Sungguh, saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata bohong dan engkau menerimanya, pasti sebentar lagi Allah Ta`ala menggerakan hatimu untuk marah kepada saya. Sebaliknya, jika saya berkata benar yang membuatmu marah, maka saya dapat mengharapkan penyelesaian yang baik dari Allah. Demi Allah, aku tidak mempuyai udzur7.” Demi Allah, diriku sama sekali tidak merasa kuat dan lebih mudah daripada ketika aku tidak mengikutimu ke Perang Tabuk. Sekarang ini, saya merasa cukup segalanya”
Rasulullah SAW, bersabda : Orang ini (Ka`ab bin Malik) telah berkata benar. Berdirilah! Tunggulah keputusan Allah terhadap dirimu. Akupun berdiri. Beberapa orang dari Bani Salimah menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya :“Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah SAW seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk. Mestinya cukuplah bagimu, jika Rasulullah SAW memintakan ampun untukmu.”
Ka`ab melanjutkan : “Demi Allah, orang-orang Bani Salimah itu terus menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya saya kembali kepada Rasulullah SAW untuk meralat perkataanku. Tetapi kemudian aku bertanya kepada orangorang Bani Salimah itu: “Adakah orang lain yang mengalami seperti yang saya alami?” Mereka menjawab: “Ya, memang ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang engkau katakan dan mereka mendapat jawaban sama seperti jawaban yang engkau terima.” Saya bertanya :”Siapa mereka?” Mereka menjawab:” Murarah bin Rabi`ah Al-Amiriy dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifiy.” Dua orang lelaki shalih itu telah mengikuti perang Badar dan dapat kuikuti karena akhlaknya. Sejak saat itu, Rasulullah SAW melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak itu pula mereka telah mengubah sikap dan menjauhi kami, sehingga bumi terasa asing bagiku, seolah-olah bumi yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah kukenal.
Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari. Dua orang temanku ( Murarah dan Hilal) menyembunyikan diri dan diam di rumahnya masing-masing, sambil tiada henti-hentinya menangis mohon ampun kepada Allah karena tidak ikut perang. Di antara kami bertiga, akulah orang yang paling muda dan paling kuat. Aku tetap keluar rumah untuk mengikuti salat jama`ah bersama kaum muslimin, juga pergi ke pasar, tetapi tak seorangpun mau diajak bicara. Saya pergi menghadap Rasulullah SAW untuk sekadar mengucapkan salam kepada beliau di tempat duduk beliau sesudah salat. Tetapi hati ini berkata: “Apakah Rasulullah SAW, akan menggerakan bibir beliau untuk menjawab salam, ataukah tidak?” Kemudian saya mengerjakan salat berdekatan dengan beliau, sesekali aku melirik beliau. Apabila menghadap ke salat, beliau memandangku, kalau menengok ke arah beliau, beliau berpaling dari saya. Hal ini terjadi berturut-turut sampai suatu hari saya berjalanjalan, lalu melompati pagar pekarangan Abu Qatadah. Dia adalah saudara sepupu dan orang yang paling kusayangi. Kuucapkan salam kepadanya, demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa aku ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?” Abu Qatadah diam saja. Sehingga kuulangi pertanyaanku, dia tetap diam, sesudah saya ulangi pertanyaan saya sekali lagi, barulah dia menjawab:”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!” Seketika itu mengalirlah air mata saya dan saya pun pulang.
Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan-jalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang petani beragama Kristen dari Syam yang datang ke Madinah untuk menjual bahan makanan. Petani itu bertanya (kepada orang-orang yang berada di pasar) :” Siapakah yang dapat menunjukkanku kepada Ka`ab bin Malik?” orang-orang memberikan isyarat ke arahku. Petani itu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku, dari Raja Ghassan. Setelah saya baca ternyata isinya sebagai berikut: ”Amma ba`du. Sungguh kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad SAW) mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu untuk tinggal di tempat hina dan tersia-sia. Karena itu datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu.” Saat membaca surat itu aku berpikir: ”Ini juga merupakan cobaan.” Kemudian saya bakar surat itu di dapur. Selang empat puluh hari, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah SAW datang kepadaku dan berkata : “Rasulullah SAW memerintahkanmu untuk menjauhi isterimu.” Ka`ab bertanya: “Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?” Utusan itu menjawab :”Tidak, tetapi hindarilah dia, jangan dekat-dekat padanya!” Rasulullah SAW juga mengirimkan utusan kepada kedua orang temanku (Murarah dan Hilal), yang maksudnya sama dengan yang kuterima. Saya berkata kepada isteriku: ”Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah engkau di sana, sampai keputusan Allah datang. Suatu saat isteri Hilal bin Umayyah menghadap kepada Rasulullah SAW Memohon kepada beliau :”Ya Rasulullah! Suamiku, Hilal bin Umayyah, adalah seorang tua sebatangkara dan tidak mempunyai pelayan, Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?” Rasulullah SAW menjawab: ”Tidak, tetapi yang saya maksud jangan sampai dia dekat-dekat padamu.” Isteri Hilal pun berkata: ”Demi Allah, Hilal sudah tidak lagi mempunyai keinginan sedikitpun (gairah) terhadapku. Dan demi Allah, tak henti-hentinya dia menangis sejak engkau melarang kaum muslimin berbicara dengannya,sampai hari ini.”
Sebagian keluarga berkata kepada saya : “Hai Ka`ab! Kalau saja engkau meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk isterimu tentu itu lebih baik, sebagaimana isteri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya.” Saya menjawab: ”Saya tidak akan meminta izin kepada Rasulullah SAW Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan Rasulullah SAW Apabila saya meminta izin beliau, sedangkan saya seorang yang masih muda.” Saya lalui kehidupan tanpa isteri itu selama sepuluh hari (menunggu keputusan Allah). Genaplah sudah bagi kami, lima puluh hari sejak ada larangan berbicara dengan kami.
Kemudian pada hari ke lima puluh, di bagian atas rumahku pada saat aku sedang duduk ketika shalat shubuh, Allah menyebut-nyebut tentang kami. Di saat itu pula hatiku sangat resah, bumi yang sedemikian luas seakan sempit bagiku. Kemudian aku mendengar suara orang yang berteriak-teriak naik ke atas Sal`i. “Hai Ka`ab bin Malik, bergembiralah !” Serta merta aku menjatuhkan diri bersujud syukur dan aku tahu bahwa saya dapat penyelesaian. Rasulullah SAW memberi tahu kepada kaum muslimin, bahwa Allah Yang Mahaagung dan Maha Tinggi telah menerima taubat kami bertiga. Kabar itu disampaikan seusai beliau mengerjakan shalat Subuh. Maka kaum muslimin berdatangan mengucapkan selamat dan ikut bergembira, juga kepada kedua orang teman (Murarah dan Hilal). Mereka ada yang datang berkuda, ada lagi penduduk Aslam yang berjalan kaku dan ada pula yang naik gunung berteriak mengucapkan selamat, sehingga suaranya lebih cepat dari larinya kuda.
Ketika saya mendengar ucapan selamat dari orang pertama dan datang kepada saya, seketika itu juga saya melepaskan pakaian dan saya kenakan kepadanya. Padahal demi Allah waktu itu saya tidak memiliki pakaian. Setelah itu, saya meminjam pakaian dan berangkat untuk menghadap Rasulullah SAW Sementara kaum muslimin menyambutku, mengucapkan selamat atas diterimanya taubatku. Mereka berkata kepada saya : “Selamat atas pengampunan Allah kepadamu.” Demikianlah, sepanjang jalan kaum muslimin memberikan selamat. Sesampainya di masjid, ternyata Rasulullah SAW Sedang duduk dikelilingi oleh para sahabat. Melihat kedatanganku, sahabat Thalhah bin Ubaidillah segera berdiri menyongsongku. Menjabat tangan saya dan memberi selamat. Demi Allah! Tak seorangpun di antara para sahabat Muhajirin yang berdiri, kecuali dia. Karena itulah Ka`ab tak bisa melupakan kebaikannya.
Ka`ab meneruskan ceritanya.:”Tatkala saya mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW Beliau menyambut saya dengan wajah berseri-seri dan berkata:”Bergembiralah! Karena, hari ini merupakan hari paling baik bagimu, sejak kamu dilahirkan ibumu.”Aku bertanya: “Wahai Rasulullah apakah darimu sendiri ataukah dari sisi Allah?” Beliau SAW menjawab :”Dari Allah yang Mahaagung dan Maha Tinggi.” Jika merasa senang, wajah Rasulullah SAW, bersinar terang, seolah-olah merupakan potongan rembulan. Melalui wajahnya, kami mengetahui bahwa Rasulullah SAW sedang senang hatinya. Ketika saya duduk menghadap beliau, aku berkata:”Ya Rasulullah, sungguh, termasuk taubat saya (sebagai pernyataan rasa syukurku), aku hendak menyerahkan harta bendaku sebagai sedekah untuk (mendapakan ridha) Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah SAW, bersabda: ”Simpanlah sebagian harta bendamu (Jangan engkau serahkan seluruhnya). Itu lebih baik. ”Kemudian saya menjawab: ”Saya masih mempunyai tanah yang menjadi bagian saya hasil dari rampasan perang di Khaibar.” Lebih lanjut saya berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya, Allah telah menyelamatkanku karena kejujuran. Dan saya nyatakan, bahwa termasuk taubatku (sebagai pernyataan rasa syukur kepada Allah) saya tidak akan berbicara selain yang benar, selama hidup saya.” Demi Allah, saya tidak pernah melihat seorangpun di antara kaum muslimin yang diuji Allah Ta`ala untuk berkata jujur, lebih baik dari saya semenjak berjanji kepada Rasululah SAW hingga kini, aku tidak pernah sengaja berbohong. Dan saya berharap semoga Allah menjagaku dalam sisa hidupku. Kemudian Allah menurunkan ayat surat At-taubah:
“Sesungguhnya Allah telah benar-benar menerima taubat Nabi, sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi (berangkat ke Tabuk) dalam masa kesulitan (mencari perlengkapan perang), sesudah hati segolongan dari para sahabat tersebut hampir saja berpaling (saking berat dan payahnya), kemudian Allah menerima taubat mereka, Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap mereka. Dan juga terhadap tiga orang (Ka`ab, Hilal, dan Murarah) yang ditangguhkan (keputusan penerimaan) taubat mereka, sehingga manakala bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan merekapun telah sempit pula dirasakan oleh mereka, serta mereka tahu bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Zat Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Hai orangorang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian berkumpul dengan orang-orang yang benar.”
Menurut Ka`ab, “demi Allah! Belum pernah Allah memberikan nikmat, sesudah Dia memberi saya petunjuk memeluk islam yang melebihi kejujuran saya kepada Rasulullah SAW. Sebab, andaikata saya berbohong kepada beliau, pastilah bencana menimpa saya (rusak agamaku), sebagaimana orang-orang munafiq yang berdusta kepada beliau. Sungguh, Allah berfirman untuk orang-orang yang mendustai Rasulullah SAW dan mengecam betapa jelek orang tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah, ayat 95 dan 96:
”Orang-orang munafik itu akan bersumpah dengan nama Allah kepada kalian, apabila kalian kembali kepada mereka (di Madinah), agar kalian berpaling dari mereka (tidak mencela mereka). Maka berpalinglah kalian dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu najis (hatinya) dan tempat mereka adalah Jahannam (di Akhirat), sebagai balasan atas apa yang mereka perbuat. Mereka akan bersumpah kepada kalian, supaya kalian ridha terhadap mereka. Tetapi, jika sekiranya kalian ridha terhadap mereka, maka ketahuilah sesungguhnya Allah ridha terhadap orang-orang yang fasik.”
Lebih lanjut Ka`ab berkata: ”Urusan kami bertiga ditunda dari urusan orang-orang munafiq, ketika mereka bersumpah kepada Rasulullah SAW lalu beliau menerima bai`at mereka dan meminta ampun kepada Allah. Tetapi masalah kami ditunda Rasulullah SAW Sampai Allah memutuskan menerima taubat kami. Sebagaimana firman Allah Ta`ala :”Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan taubatnya.”
Firman Allah tersebut menurut Ka`ab, bukan berarti kami bertiga ketinggalan dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafiq yang bersumpah kepada Rasulullah SAW Dan menyampaikan bermacam-macam alasan yang kemudian diterima oleh Rasulullah SAW”
( H.R Bukhari dan Muslim)

Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa kejujuran akan membawa akhir yang baik dalam hidup meski terkadang pahit di awalnya. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk mampu selalu jujur dalam kondisi apapun. Jujur dalam perkataan maupun perbuatan. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin..

By Rosarina Nurul F

Hidayah Terhadap Semut


Dalam hidup ini kita seringkali melihat semut. Bahkan di sekitar lingkungan kita tidak sulit menjumpai semut. Namun, jarang sekali diantara kita yang mau bertafakkur dan mengambil hikmah dari penciptaan semut ini.
Sesungguhnya Allah menciptakan semut disertai pula dengan pemberian hidayah kepada mereka. Semut-semut itu hidup di bawah petunjuk sehingga perilakunya sangat menakjubkan. Banyak keunikan yang ada pada semut.
Ukuran tubuhnya sangat kecil jika dibandingkan dengan makhluk lain. Namun berkat petunjuk itu, insting semut menjadi luar biasa. Bahkan mengalahkan insting binatang yang lebih besar darinya.
Setiap hari semut yang kecil itu keluar dari sarang (rumahnya) untuk mencari makanan. Mereka mempunyai ketangguhan dalam melakukan perjalanan. Meskipun tempatnya jauh, mereka akan menempuhnya tanpa merasa lelah.
Jika ia beruntung dan mendapatkan rejeki (makanan), meskipun lebih besar dari tubuhnya, ia akan mendorong atau menarik meskipun melewati jalan sulit dan berliku. Ia tak kenal menyerah. Usaha dan kerja kerasnya dilakukan sampai makanan itu benar-benar sampai ke liang rumahnya.
Dalam mencari sumber makanan, semut-semut ini menggunakan hidayah/petunjuk Allah, yang disebut insting.  Bila telah menemukannya, ia membangun jalan. Kelompok masyarakat semut ini akan melewati jalan yang telah disepakati. Tak ada yang membuat jalan baru di luar kesepakatan.
Semut adalah makhluk paling ramah dan paing mengerti bersilaturrahmi. Perhatikanlah, setiap berpapasan jalan selalu bertegur sapa satu sama lainnya. Hal ini merupakan sifat orang beriman dan berakhlak mulia.
Masyarakat semut mempunyai sifat gotong-royong (kerjasama) yang tinggi dan ikhlas. Jika makanan yang didapatkan itu besar, mereka bahu-membahu membawanya hingga sampai ke sarang. Mereka tak pernah mengenal lelah mengusung makanan secara bersama-sama meskipun melalui jalan berliku, turun dan naik.
Semut mepunyai kebiasaan hidup hemat. Makanan yang didapatkan tidak langsung dihabiskan begitu saja. Namun mereka menyimpan di sarangnya sebagai bahan persediaan. Jika mendapati biji-bijian yang masih segar, mereka akan membelahnya menjadi dua atau lebih. Tujuannya agar tidak tumbuh hidup. Jika simpanan makanan itu basah dan dikhawatirkan akan membusuk dan rusak, maka mereka akan menjemurnya di depan pintu rumahnya ketika matahari bersinar. Setelah kering, ia mengembalikannya ke tepat semula.
Semut mempunyai disiplin dan amanah yang tinggi. Tidak seekor semut pun yang mau memakan bahan persediannya. Tentang petunjuk Allah terhadap semut dikisahkan dalam Al-Qur’an, misalnya ketika mereka berbicara dengan temannya yang sempat didengar oleh Nabi Sulaiman.
“Wahai para semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar kalian tidak diinjak Sulaiman dan tentaranya, sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml:18).
Seekor semut memberitahu teman-temannya bahwa balatentara Nabi Sulaiman sedang melintas. Agar tidak terinjak, disarankan untuk memasuki sarang. Semut-semut memaklumi karena misalnya balatentara menginjaknya hal itu wajar karena mereka tidak mengetahuinya.
Emikian itu merupakan pemberian petunjuk (hidayah) yang sangat menakjubkan. Reungkanlah bagaimana Tuhan menghormati keberadaan semut melalui ayat berikut:
“Dan dihimpun untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, maka seekor semut berkata, ‘Wahai semutsemut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar kalian tidak diinjak Sulaiman dan tentaranya, sedang mereka tidak menyadari’.” (QS An Naml:17-18)
Dapatlah dipahami bahwa Allah swt. memberitahukan, jika Nabi Sulaiman dan pasukannya akan melintasi lembah semut. Lalu Allah juga menerangkan betapa semut itu cerdas dan teliti. Dimana seekor semut menyuruh teman-temannya masuk dan berlindung ke dalam tempat tinggalnya masing-masing. Semut tadi mengetahui bahwa masing-masing kelompok semut memiliki tempat sendiri-sendiri yang tidak boleh dimasuki kelompok semut lainnya. Selanjutnya seekor semut tadi berkata, “Agar kalian tidak diinjak Sulaiman dan pasukannya.”
Selain itu, semut itu juga memberitahukan bahwa pasukan Sulaiman tidak menyadari. Seakan-akan semut tadi menyatukan antara alasan bahwa Sulaiman dan pasukannya tidak menyadari dan kecaman umat seut, dimana mereka tidak berhati-hati dan tidak masuk ke dalam rumah mereka.
Mendengar kata-kata itu, Nabi Sulaiman yang dapat memahami bahasa binatang menjadi tersenyum.
Al-Zuhri pernah meriwayatkan dari Abdullah bin Abdullah bin Uyainah dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. melarang membunuh semut, lebah, burung Hud-hud, dan burung Shurad.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda , “Ada seeorang nabi yang singgah di bawah pohon, lalu ia digigit semut. Lalu ia menyuruh membinasakannya dan menyuruh mencari tempat persembunyian semut tersebut. Setelah itu ia menyuruh untuk membakar tempat tinggal semut. Kemudian Allah menanyakan kepadanya, “Apakah hanya karena gigitan seekor semut engkau akan membakar satu umat yang senantiasa bertasbih, mengapa tidaka satu semut saja yang kau bunuh?” (HR. Imam Bukhari)
Semut adalah binatang yang cerdas. Kecerdasannya karena instingnya. Insting yang dimiliki adalah hidayah dari Allah. Keajaiban lainnya yang mereka miliki ialah tahu Tuhannya berada di langit di atas Arsy-Nya.
Hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra. menerangkan : Ada seorang nabi yang pergi bersama beberapa orang untuk mencari air. Tib-tiba ia menemukan seekor semut. Dua kaki binatang itu mengarah ke langit seperti orang yang sedang memanjatkan doa. Semut itu berucap, “Kembalilah pulang, karena kalian telah dimintakan air oleh selain kalian.”
Begitu juga riwayat dari Waki’ yang menjelaskan bahwa Abu Shadiq an_Naji’ bercerita demikian : Suatu ketika Sulaiman bin Dawud pergi mencari air. Ia melihat seekor semut sedang bersandar ke punggungnya dan mengangkat kedua kaki depannya ke langit seraya berucap, “sesungguhnya kami adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhlukMu, kami sangat butuh siraman da rejekiMu. Baik Engkau akan mengucurkan air dan rejeki kepada kami atau membinasakan kami.” Lalu Sulaiman berkata, “Kembalilah pulang, kalian akan diberi air melalui doa selain diri kalian.”
Menurut Ibnu Katsir bahwa seekor semut pergi keluar dari rumahnya, lalu menemukan bangkai belalang. Ia berusaha membawa bangkai itu, namun tidak mapu melakukannya. Ia pergi mencari bantuan, kemudian kembali dengan teman-temannya. Mereka mencoba menggotong bangkai yang terlalu besar dibandingkan tubuh mereka. Namun tak mampu. Lalu Allah memberikan insting sehingga semut-semut itu memotong beberapa bagian sehingga memungkinkan untuk digotongnya untuk menuju ke sarang.
Sekali lagi, keunikan semut adalah ia merupakan hewan paling hemat. Sampai-sampai Nabi Sulaiman tertarik untuk menanyakan kepada semut, “Berapa banyak makanan yang dikonsumsi seekor semut pada setiap tahunnya?” para semut menjawab, “Sebanyak tiga biji gandum.”
Nabi Sulaiman kemudian menaruh semut itu dalam suatu botol kaca dan memberinya tiga biji gandum. Lalu menutupnya agar semut itu tidak keluar. Setelah setahun berjalan, Nabi Sulaiman membuka tutup botol kembali. Ternyata, masih tersissa setengah biji gandum. Sulaiman pun bertanya, “Katamu dalam setahun engkau membutuhkan tiga biji gandum?” semut itu menjawab, “Benar. Tetapi ketika aku menyaksikan engkau sibuk mengurusi rakyatmu, aku memperkirakan bahwa sisa umurku akan lebih dari waktu yang engkau tentukan; yaitu satu tahun. Lalu aku memakan separuhnya saja. Dan separuhnya lagi kusisakan untuk makananku berikutnya.”
Sulaiman benar-benar takjub terhadap sifat hemat yang dimiliki binatang itu. Sifat hemat tersebut merupakan petunjuk atau hidayah Allah kepada semut.
Hikmah yang dapat diambil sebagai pelajaran adalah sifat hemat tersebut. Lihatlah ketika musim kemarau, mereka bekerja keras mengumpulkan makanan. Lalu disimpan di dalam sarang. Tak seekor pun dari masyarakat semut itu memakannya. Sebab bahan makanan itu sebagai cadangan untuk musim dingin (penghujan). Mereka tahu, musim hujan akan suli baginya mendapatkan makanan.
Allah swt. memberikan insting (hidayah) kepada semut berupa daya penciuman yang luar biasa. Jika kita menjatuhkan makanan yang tak berbau, maka dalam waktu singkat semut di tempat jauh akan mencium keberadaan makanan itu. Lalu semut itu mendatanginya. Apabila makanan itu terlalu besar dan berat untuk dibawa sendirian, ia kembali mengajak teman-temannya. Dengan bekerjasama mereka harus berhasil mengusung rejeki dari Tuhan itu.
Satu hal yang perlu dicatat ialah, sesungguhnya semut-semut itu mempunyai penciuman yang selalu tepat, kemauan yang kuat, sangat hemat, dan keberanian untuk membawa beban yang lebih berat dari dirinya meskipun berlipat-lipat.

Sumber: Kun Faya Kun karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah
By Rosarina nurul f

Minggu, 24 Juli 2011

Dasar Tukang Obat !


Humor  Sehat

Pada suatu hari ada seorang penjual obat di trotoar yang memasang iklan bahwa obat yang djualnya bisa menyembuhkan 1000 macam penyakit.
Setelah melihat iklan yang dipasang itu, seorang ibu datang dan bertanya pada penjual obat , “Benar obat ini bisa menyembuhkan 1000 macam penyakit ?”. Maka sang penjual obat itu pun mencoba meyakinkan ibu itu dengan berkata, “Oh, tentu saja Bu, obat ini dijamin manjur dan akan menyembuhkan penyakit ibu dengan instan”.
Maka setelah terbujuk oleh penjual obat itu, ibu tersebut membeli obatnya. Setelah beberapa hari, ibu tersebut kembali pada penjual obat dan bertanya, “Bang, katanya obatmu bisa menyembuhkan 1000 macam penyakit, saya sudah meminum obatnya, tapi kok penyakit saya belum juga bisa sembuh ?”.
Lalu penjual obat itu dengan santunnya berkata,”Oh....mungkin penyakit ibu itu penyakit yang ke 1001, jadi sulit untuk bisa sembuh”.



by bayu trimurti

Senin, 18 Juli 2011

Bisikan atau Batu?

Seorang eksekutif muda yang sukses sedang  mengendarai mobil Ferrari baru, melewati jalan-jalan dilingkungannya. Ia melihat anak-anak berlari kencang, muncul dan dan hilang diantara mobil-mobil yang diparkir. Ia mengurangi laju mobilnya karena mengira melihat sesuatu. Selagi mobilnya lewat, tidak ada anak yang muncul tapi justru sebaliknya, batu bata melayang melayang menghantam pintu mobilnya. Ia segera menginjak rem sehingga mobilnya berputar, lalu memacu mobilnya ketempat datangnya batu. Ia segera melesat keluar dari mobinya, mencengkeram anak yang berdiri disana lalu memojokkannya ke mobil yang sedang di parkir sambil berteriak, " APA YANG TELAH KAU LAKUKAN ???".
      
Dengan kemarahan yang meluap-luap ia berkata," Itu mobil baru. Batu yang kau lemparkan akan menyebabkanku mengeluarkan biaya besar. Mengapa kau berbuat begitu ?’’.
         
"Tolong Tuan, tolong ! Aku tidak tahu harus berbuat apa," kata si anak dengan nada memohon. " Aku melemparkan bata karena tidak ada mobil yang mau berhenti."
         
Air mata si anak mengalir dipipi selagi ia menunjuk ke suatu arah.
        
"Itu saudaraku, Tuan," katanya, " Ketika sedang meluncur di pinggir jalan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi rodanya. Aku tidak kuat mengangkatnya."
         
Dengan terisak-isak ia memohon kepada si eksekutif muda. ‘’Tong Tuan, maukah engkau mmbantuku mengangkatnya kembali kekursi rodanya. Ia terluka. Ia terlalu berat untukku ?.’’
        
Tergerak oleh kata-kata anak itu, si eksekutif lalu menekan kemarahannya yang telah menggumpal di dadanya. Ia lalu mengankat anak muda yang terjatuh itu kembali ke atas kursi rodanya. Ia mengeluarkan sapu tangan untuk menghapus luka dan goresan. Kemudian memastikan bahwa tidak ada hal lain yang mengkhawatirkan.
     
"Terima kasih, Tuan. Semoga Allah SWT merahmatimu.", kata si anak merasa berterima kasih.
         
Si eksekutif mengamati anak itu yang mendorong  saudaranya pulang ke rumah.
         
Ia kemudian berjalan kembali k mobil Ferrarinya, jalannya terasa lam dan pelan. Ia tidak memperbaiki pintu mobilnya. Ia membiarkan penyok di pintu itu sebagai peringatan agar tidak lagi menjalani kehidupan ini secara cepat sehingga orang lain harus melemparkan bata untuk mendapatkan perhatiannya.
         
Tuhan berbisik di jiwamu dan berbicara di hatimu. Kadang-kadang justru engkau yang tidak memiliki waktu untuk mendengarkan Nya sehingga Dia harus melemparmu dengan batu bata.
        
 Terserah kepadamu kau mau mendengarkan bisikan itu atau menunggu batu bata melayang kearahmu 

(Unknown Author).

by bayu trimurti

Selasa, 12 Juli 2011

Perangkap Tikus

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang.. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...." Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkap tikus"

Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.Sang Kambing pun berkata " Aku turut ber simpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. " Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata "Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata yang terperangkap adalah seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah.

Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri terkena gigitan ular tersebut. Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam)

Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.

Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

SUATU HARI..KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA...PIKIRKANLAH SEKALI LAGI

Sumber : www.bloggaul.com

by bayu trimurti

Jumat, 08 Juli 2011

WARNA-WARNI PERSAHABATAN


Di suatu masa warna-warna dunia mulai bertengkar
Semua menganggap dirinyalah yang terbaik
yang paling penting
yang paling bermanfaat
yang paling disukai

HIJAU berkata: "Jelas akulah yang terpenting.Aku adalah pertanda keh idupan dan harapan.
Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan.
Tanpa aku, semua hewan akan mati.
Lihatlah ke pedesaan, aku adalah warna mayoritas ...."

BIRU menginterupsi : "Kamu hanya berpikir tentang bumi,
pertimbangkanlah langit dan samudra luas.
Airlah yang menjadi dasar kehidupan dan
awan mengambil kekuatan dari kedalaman lautan.
Langit memberikan ruang dan kedamaian dan ketenangan.
Tanpa kedamaian, kamu semua t id ak akan menjadi apa-apa"

KUNING cekikikan :"Kalian semua serius amat sih?Aku membawa tawa, kesenangan dan kehangatan bagi dunia.
Matahari berwarna kuning, dan bintang-bintang berwarna kuning.
Setiap kali kau melihat bunga matahari, seluruh dunia mulai tersenyum.
Tanpa aku, dunia t id ak ada kesenangan."

ORANYE menyusul dengan meniupkan trompetnya :
"Aku adalah warna kesehatan dan kekuatan.
Aku jarang, tetapi aku berharga karena aku mengisi kebutuhan keh id upan manusia.
Aku membawa vitamin-vitamin terpenting. Pikirkanlah wortel, labu, jeruk, mangga dan pepaya.
Aku t id ak ada dimana-mana setiap saat,
tetapi aku mengisi lazuardi saat fajar atau saat matahari terbenam.
Keindahanku begitu menakjubkan hingga tak seorangpun dari kalian
akan terbetik di pikiran orang."

MERAH tidak bisa diam lebih lama dan berteriak :"Aku adalah Pemimpin kalian. Aku adalah darah - darah keh id upan!
Aku adalah warna bahaya dan keberanian.
Aku berani untuk bertempur demi suatu kuasa.
Aku membawa api ke dalam darah.
Tanpa aku, bumi akan kosong laksana bulan.
Aku adalah warna hasrat dan cinta, mawar merah, poinsentia dan bunga poppy."

UNGU bangkit dan berdiri setinggi-tingginya ia mampu :Ia memang tinggi dan berbicara dengan keangkuhan.
"Aku adalah warna kerajaan dan kekuasaan.
Raja, Pemimpin dan para
Uskup memilih aku sebagai pertanda otoritas dan kebijaksanaan.
T id ak seorangpun menentangku. Mereka mendengarkan dan menuruti kehendakku."

Akhirnya NILA berbicara  lebih pelan dari yanglainnya, namun dengan kekuatan niat yang sama :"Pikirkanlah tentang aku. Aku warna diam.Kalian jarang memperhatikan ada aku, namun tanpaku kalian semua menjadi dangkal.Aku merepresentasikan pemikiran dan refleksi, matahari terbenam dan kedalaman laut.Kalian membutuhkan aku untuk keseimbangan dan kontras, untuk doa dan ketentraman batin."

Jadi, semua warna terus menyombongkan diri,
masing-masing yakin akan superioritas dirinya.
Perdebatan mereka menjadi semakin keras.
Tiba-tiba, sinar halilitar melintas membutakan.
Guruh menggelegar.
Hujan mulai turun tanpa ampun.
Warna-warna bersedeku
bersama ketakutan, berdekatan satu sama lain mencari ketenangan.
Di tengah suara gemuruh, hujan berbicara :
"WARNA-WARNA TOLOL, kalian bertengkar satu sama lain,
masing-masing ingin mendominasi yang lain. T id akkah kalian
tahu bahwa kalian masing-masing diciptakan untuk tujuan khusus,
unik dan berbeda
Berpegangan tanganlah dan mendekatlah kepadaku!"
Menuruti perintah, warna-warna berpegangan tangan mendekati
hujan, yang kemudian berkata :"Mulai sekarang, setiap kali hujan mengguyur,masing- masing dari kalian akan membusurkan diri sepanjang langit bagai busur warna sebagai pengingat bahwa kalian semua dapat hidup bersama
dalam kedamaian.

Pelangi adalah pertanda Harapan hari esok."
Jadi, setiap kali HUJAN deras menotok membasahi dunia, dan saat
Pelangi memunculkan diri di angkasa marilah kita
MENGINGAT untuk selalu
MENGHARGAI satu sama lain.
MASING-MASING KITA MEMPUNYAI SESUATU YANG UNIK
KITA SEMUA DIBERIKAN KELEBIHAN UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN DIDUNIA
DAN SAAT KITA MENYADARI PEMBERIAN ITU, LEWAT KEKUATAN VISI KITA,
KITA MEMPEROLEH KEMAMPUAN UNTUK MEMBENTUK MASA DEPAN ....

Persahabatan itu bagaikan pelangi :
Merah bagaikan buah apel, terasa manis di dalamnya.
Jingga bagaikan kobaran api yang tak akan pernah padam.
Kuning bagaikan mentari yang menyinari hari-hari kita.
Hijau bagaikan tanaman yang tumbuh subur.
Biru bagaikan air jernih alami.
Ungu bagaikan kuntum bunga yang merekah.
Nila-lembayung bagaikan mimpi-mimpi yang mengisi kalbu.

SUDAHKAH ANDA MERASA MENJADI SAHABAT BAGI REKAN KULIAH  ANDA SENDIRI?

 WARNA-WARNI PERSAHABATAN

by nina wijiani

Sabtu, 29 Januari 2011

Kisah Dua Orang Sol Sepatu

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.


Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.


“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.


“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.


“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.


“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”


“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.


“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.


“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.


“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.


“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”


Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,


“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”. Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,


“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”


“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.


“Abang yakin?”


“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.


“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.


“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.


Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”


“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum.


Kemudian berkata,“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”


“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.


“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.


Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,


“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”


“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.


“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.


Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.


“Tidak.”


“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”


Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.


“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.


“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

by UKKI Asy Syifa

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More